JAKARTA, JURNALISWARGA.ID – Di tengah meningkatnya konflik global dan polarisasi identitas di berbagai belahan dunia, Pemerintah Indonesia dan Denmark kembali menegaskan pentingnya dialog lintas agama dan budaya sebagai fondasi membangun perdamaian dunia yang berkelanjutan.
Indonesia–Denmark Perkuat Dialog Lintas Agama Demi Perdamaian dan Toleransi Global. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan “The 4th Indonesia–Denmark Interfaith Dialogue” yang berlangsung di Jakarta pada 3–7 Mei 2026 dengan tema “Faith in Humanity: Building Peace through Interfaith and Intercultural Understanding.”
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia bersama Kedutaan Besar Denmark di Jakarta dan menjadi momentum bersejarah karena untuk pertama kalinya Indonesia menjadi tuan rumah setelah tiga pertemuan sebelumnya digelar di Denmark.
Dialog resmi dibuka oleh Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kemlu RI Heru Hartanto Subolo di Jakarta, 4 Mei 2026.
Dalam sambutannya, Heru menyampaikan bahwa hubungan Indonesia dan Denmark selama 76 tahun tidak hanya dibangun melalui kerja sama antarpemerintah, tetapi juga melalui kepercayaan, keterbukaan, dan kemauan untuk saling memahami.
“Hubungan Indonesia dan Denmark tidak hanya dibangun melalui kerja sama antarpemerintah. Lebih dari itu, hubungan kedua negara tumbuh dari kepercayaan, keterbukaan, dan kesediaan untuk saling mendengar,” ujar Heru.
Dialog lintas agama ini juga menjadi implementasi nyata dari Plan of Action on Strategic Partnership for a Sustainable and Resilient Future 2025–2029 yang ditandatangani kedua negara pada April 2025. Kesepakatan tersebut menempatkan nilai perdamaian, toleransi, dan saling pengertian sebagai pilar penting kemitraan strategis Indonesia–Denmark.
Forum tersebut menghadirkan berbagai tokoh lintas agama, akademisi, dan diplomat dari kedua negara. Dari Indonesia, Darmansjah Djumala menyoroti relevansi Pancasila sebagai inspirasi etika perdamaian global. Sementara M. Najib Azca menegaskan pentingnya moderasi dan persaudaraan kemanusiaan dalam semangat rahmatan lil ‘alamin.
Adapun Aloysius Budi Purnomo menekankan pentingnya penghormatan terhadap martabat manusia serta kerja sama lintas iman dalam menghadapi konflik dan krisis kemanusiaan global.
Delegasi Denmark juga membagikan pengalaman terkait dialog Kristen-Islam, kebebasan beragama dan berkeyakinan, pelayanan spiritual lintas budaya, hingga pemberdayaan generasi muda dalam masyarakat multikultural.
Dalam sesi penutupan, Staf Ahli Menteri Luar Negeri Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia di Luar Negeri Kamapradipta Isnomo menegaskan bahwa dialog lintas agama bukan sekadar forum diskusi, melainkan komitmen bersama membangun kehidupan damai dan saling menghormati.
Selain forum diskusi, delegasi Denmark juga melakukan kunjungan ke sejumlah simbol keberagaman Indonesia seperti Masjid Istiqlal, Katedral Jakarta, Gereja Immanuel, hingga Taman Mini Indonesia Indah.
Delegasi Denmark juga melakukan audiensi dengan Menteri Agama RI sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar serta Wakil Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha C. Nasir.
Dalam pertemuan tersebut, Arrmanatha menegaskan bahwa keberagaman merupakan identitas utama bangsa Indonesia.
“Bagi Indonesia, keberagaman telah menjadi bagian dari identitas bangsa — diversity is part of our DNA. Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar semboyan, melainkan falsafah yang hidup dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat,” tegas Arrmanatha.
Indonesia dan Denmark sepakat bahwa masa depan dunia yang damai hanya dapat dibangun melalui kepercayaan, empati, dan keberanian untuk memandang sesama manusia sebagai saudara dalam kemanusiaan. (Red/nR)
Sumber Berita:
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia – Rilis resmi Dialog Lintas Agama ke-4 Indonesia–Denmark, edisi 15 Mei 2026.
