Unikama adalah Miniatur Indonesia


“Semua sepakat bahwa realitas itu tidak tunggal. Eksistensi multikultural harus kita terima. Faktanya hidup ini memang plural. Seorang individu itu adalah realitas tunggal, tetapi dalam dirinya sangat plural. Oleh karena itu kita mengenal pandangan bahwa manusia itu multidimensional,” kata Rektor Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), Dr. Pieter Sahertian, M.Si. dalam Kolokium 1 yang mengangkat tema “Kampus Multikultural: Problem dan Masa Depannya.”
Acara yang dipandu oleh Dr. Ir. Enike Dwi Kusumawati, S.Pt MP IPM itu berlangsung secara daring pada Jumat pagi (19/11/2021). Kolokium ini diinisiasi oleh Pusat Studi Pancasila dan Multikultural (PSPM) Unikama.
Lebih lanjut Pieter menyatakan bahwa ini adalah tradisi yang baik yang kita bangun, untuk menciptakan suasana akademik dengan melakukan kolokium dan kegiatan-kegiatan sejenis yang lain. Harapannya, penciptaan suasana untuk saling berbagi dan membiasakan menyampaikan gagasan kita secara ilmiah.
“Konsep ini selalu dipertanyakan, bagaimana bentuk kampus kita sebagai kampus multikultural. Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) adalah miniatur Indonesia. Mahasiswa dari agama dan keyakinan apa pun tanpa terkecuali bisa menggunakan fasilitas yang ada di Unikama. Ke depannya menjadi PR kita mencoba mencari core value-nya, supaya penamaan kampus kita sebagai kampus multikultural bisa kita pertanggungjawabkan. Kita bukan hanya ikiut-ikutan. Di dalamnya ada nilai yang harus dihidupi, bukan hanya dalam pergaulan, tetapi terinternalisasi dalam kurikulum.
Ketua Pusat Studi Pancasila dan Multikultural (PSPM) Unikama, Dr. Andre Fransiskus Gultom, M.Phil. dalam paparan materinya menyatakan bahwa tema ini diambil pertama-tama untuk menggali kekayaan yang terkandung di kampus kita. Barangkali kita abai, bahwa yang baik itu ada di luar, padahal harta karun ada di dalam. Ingin mencari kekayaan dari dalam, dari kampus kita sendiri.
“Ada banyak universitas yang mengklaim dirinya sebagai kampus multikultural. University itu unity the diversity. Pemaknaan ini mendasarkan bahwa universitas memiliki dan mengandung muatan multikultural (dimensi kodrati),” tambah Andre.
Andre bermain dengan pertanyaan: Masih adalah kampus multikultural yang bukan sekadar klam? Hipotesis 1 menyatakan ada, bila ada pencarian konsep mendasar tentang core value (kekhasan) dari kampus multikultural tersebut (kualitas pemikiran).
Hipotesis 2 tidak ada, karena orientasi kampus ada dalam pencarian bahwa siapa saja bisa diterima menjadi anggota di kampus, namun abai mengolah keberagaman.
Sementara itu Dr. Wadji, M.Pd. dosen Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unikama menyatakan bahwa meningkatnya tindak intoleransi dalam masyarakat kita, termasuk di lembaga pendidikan, mengundang kita semua untuk segera melakukan tindakan riil. Pemahaman terhadap keberagaman harus mewarnai setiap kampus, lebih-lebih kampus-kampus yang mendeklarasikan diri sebagai kampus multikultural.
“Banyak kampus yang mengklaim diri sebagai kampus multikultural, namun hanya sebatas pencitraan dan alat untuk menarik minat calon mahasiswa baru. Menyandang predikat sebagai kampus multikultural setidaknya harus terpenuhi 3 syarat, yakni infrastruktur fisik, infrastruktur sosial, dan sistem,” kata Wadji.
Lebih lanjut Wadji menambahkan bahwa infrastruktur fisik termasuk tersedianya sarana ibadah bagi semua agama dan keyakinan. Infrastruktur sosial berkaitan dengan pelayanan tanpa diskriminasi. Sumberdaya dan kebijakan kampus harus mendukung. Jika selama ini kampus membuka lebar-lebar untuk kelompok mayoritas mengekspresikan keyakinannya, maka hal tersebut juga harus berlaku untuk minoritas tanpa terkecuali.
“Perlu juga adanya edukasi terhadap masyarakat sekitar kampus. Seperti kita ketahui selama ini masih banyak diskriminasi di lingkungan kampus. Sebagai contoh, masih banyak rumah kost yang bertuliskan “Menerima Kost Putri Muslimah.” Untuk mencari tempat kost saja harus mengalami pembatasan-pembatasan seperti itu,” kata Wadji.

Baca Juga:  Buya Syakur : Kesetaraan menghormati manusia, bukti Cinta Pencipta.

Pewarta: PSPM Unikama

Baca Juga:  Tim Opsnal Sat Resnarkoba Polresta Kendari Berhasil Mengamankan Sabu 51 Sachet Berat 22,63 Gram Di Salah Satu Kamar Kost, Tersangka Terancam Penjara Seumur Hidup

Editor : Nimbrod Rungga

Trending Topic

Leave A Reply

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Top News

GEAS Indonesia Serie IX Satukan 32 Daerah, Cetak Bibit Atlet dan UMKM

DEPOK, JURNALISWARGA.ID — Generasi Emas Anak Sekolah Sepakbola Indonesia (GEAS) Indonesia Serie IX sukses digelar di Kompleks GOR dan Lapangan Divif 1 Kostrad Cilodong,...

Menlu RI Dorong Percepatan CEPA Indonesia-Uni Eropa dan Kerja Sama Energi 2026

MANILA, JURNALISWARGA.ID — Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (Menlu RI) Sugiono kembali mendorong percepatan penandatanganan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (Indonesia-EU CEPA) sebagai...

Bupati Bogor Percepat 6.500 Rumah Layak Huni, Didukung Pemerintah Pusat

BOGOR, JURNALISWARGA.ID — Komitmen Bupati Bogor Rudy Susmanto dalam mempercepat penyediaan hunian yang layak, aman, dan nyaman bagi masyarakat mendapat dukungan kuat dari Pemerintah...

Bupati Bogor Percepat Pembebasan Lahan Bendungan Cibet, Capai 90 Persen

BOGOR, JURNALISWARGA.ID — Pemerintah Kabupaten Bogor terus mengawal percepatan pembebasan lahan untuk pembangunan Bendungan Cibet. Di bawah koordinasi Bupati Bogor Rudy Susmanto, proses pembebasan...

Kepala Otorita IKN Lepas 7 Putra Daerah Kuliah di Universitas Brawijaya

NUSANTARA, JURNALISWARGA.ID – Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) Basuki Hadimuljono melepas tujuh putra-putri warga kawasan delineasi IKN yang berhasil meraih Beasiswa Universitas Brawijaya...

 

ARTIKEL TERKAIT