Yogyakarta, JURNALISWARGA.ID – Inovasi mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) berhasil membawa harapan baru bagi nelayan di Desa Sangrawayang, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Melalui Program Mahasiswa Berdampak Tahun Anggaran 2025, mahasiswa IPB mengembangkan teknologi atraktor cumi-cumi yang terbukti mampu meningkatkan hasil tangkapan nelayan hingga sekitar 30 persen.
Mahasiswa IPB Bantu Nelayan Sukabumi, Tangkapan Cumi Naik 30%. Program tersebut menjadi salah satu contoh nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan masyarakat pesisir sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi lokal berbasis potensi sumber daya laut.
Inisiatif ini dipresentasikan dalam Seminar Dampak Program Mahasiswa Berdampak Tahun Anggaran 2025 yang diselenggarakan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta.
Ketua Pelaksana Tim, Faturokhman, menjelaskan bahwa teknologi atraktor cumi-cumi merupakan inovasi yang dikembangkan oleh Prof. Mulyono dari IPB. Teknologi tersebut dipasang di bawah keramba jaring apung sebagai media tempat cumi-cumi bertelur sehingga dapat meningkatkan populasi dan peluang tangkapan nelayan.
“Semakin banyak cumi yang datang untuk bertelur, maka peluang nelayan mendapatkan hasil tangkapan juga semakin besar. Dari implementasi di lapangan, penggunaan atraktor mampu meningkatkan hasil tangkapan hingga sekitar 30 persen,” ujar Faturokhman.
Sebanyak empat hingga lima unit atraktor dipasang pada setiap keramba yang digunakan dalam program pendampingan. Kehadiran teknologi sederhana namun efektif ini menjadi solusi nyata bagi nelayan yang selama beberapa tahun terakhir menghadapi penurunan hasil tangkapan akibat perubahan kondisi lingkungan dan faktor alam.
Tidak hanya berfokus pada peningkatan hasil tangkapan, mahasiswa IPB juga mendorong penguatan ekonomi masyarakat melalui pengolahan hasil laut menjadi produk bernilai tambah.
Bersama Karang Taruna dan kelompok Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), hasil tangkapan cumi-cumi diolah menjadi berbagai produk unggulan seperti nugget cumi, bakso cumi, dan kerupuk cumi. Dari berbagai produk tersebut, kerupuk cumi menjadi produk yang paling diminati masyarakat karena mudah diproduksi dan memiliki cita rasa khas.
Ketua Mahasiswa, Ilham Toni Maulana, mengatakan pengembangan produk dilakukan berdasarkan aspirasi masyarakat dan potensi unggulan desa yang tersedia.
“Kami melihat potensi yang ingin dikembangkan masyarakat. Dari sumber daya cumi-cumi yang dimiliki desa, kami mencoba mengolahnya menjadi produk yang dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi warga,” jelas Ilham.
Untuk memperluas pasar, mahasiswa IPB juga membantu masyarakat membangun sistem pemasaran digital melalui website penjualan dan promosi di berbagai platform media sosial. Produk-produk tersebut dipasarkan dengan merek lokal Sangra Food yang diharapkan mampu menjadi identitas baru Desa Sangrawayang.
Program ini mendapat respons positif dari masyarakat karena tidak hanya meningkatkan pendapatan nelayan, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi keluarga pesisir. Langkah tersebut sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong inovasi, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal.
Melalui Program Mahasiswa Berdampak, mahasiswa IPB membuktikan bahwa kolaborasi antara dunia pendidikan, masyarakat, dan pemerintah mampu menghadirkan solusi berkelanjutan yang memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat pesisir Indonesia.(Red/nR)
