Kupang, Jurnaliswarga.id – Polemik seleksi Calon Taruna dan Taruni Akademi Kepolisian (Catar Akpol) di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus menjadi perhatian publik. Di tengah ramainya perbincangan mengenai enam peserta yang viral di media sosial, Ketua Umum BPI KPNPA RI, Rahmad Sukendar, meminta seluruh pihak mengawal proses seleksi secara transparan, sekaligus mendorong peningkatan pembinaan bagi putra-putri asli NTT.
Rahmad menilai selama ini putra-putri asli NTT masih minim yang berhasil lolos menjadi Taruna dan Taruni Akpol. Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah beserta seluruh pemangku kepentingan.
“Pejabat daerah di NTT jangan hanya menjadi penonton. Harus ada kepedulian dan langkah nyata agar setiap tahun ada putra-putri asli daerah yang mampu lolos menjadi Taruna dan Taruni Akpol. Jangan hanya melihat anak-anak dari luar daerah yang masuk Akpol,” ujar Rahmad Sukendar.
Ia mengatakan pemerintah daerah perlu memiliki program pembinaan yang berkesinambungan untuk mempersiapkan generasi muda NTT menghadapi seleksi Akpol, mulai dari pembinaan akademik, kesehatan, hingga kesiapan mental dan fisik.
Rahmad juga meminta agar seluruh proses seleksi dilakukan secara bersih, transparan, objektif, dan akuntabel sehingga tidak menimbulkan kecurigaan maupun polemik di tengah masyarakat.
“Harapan kami bukan membatasi hak peserta dari daerah lain yang telah memenuhi persyaratan sesuai aturan, tetapi bagaimana putra-putri asli NTT juga memiliki kesempatan yang sama untuk bersaing dan lolos berdasarkan kemampuan serta prestasi,” tegasnya.
Polemik ini mencuat setelah enam nama peserta yang beredar di media sosial memicu berbagai pertanyaan dari masyarakat mengenai asal domisili para peserta. Menanggapi hal tersebut, Polda NTT menyatakan bahwa seluruh peserta yang menjadi sorotan telah memenuhi persyaratan administrasi dan domisili sesuai ketentuan penerimaan Taruna Akpol Tahun Anggaran 2026.
Rahmad berharap polemik tersebut menjadi momentum evaluasi bersama agar proses rekrutmen anggota Polri ke depan semakin dipercaya masyarakat serta mampu melahirkan Taruna dan Taruni terbaik dari seluruh daerah, termasuk putra-putri asli Nusa Tenggara Timur. (Red)
