Satu Kepedulian Bisa Berarti: Dokter Spesialis Jiwa IHC RS Pertamina Prabumulih Bicara tentang Pencegahan Bunuh Diri

Dokter Rahmaniah, Sp.KJ (Dokter Kesehatan Jiwa RS Pertamina Prabumulih)

PRABUMULIH — Tidak semua orang yang sedang menghadapi persoalan berat mampu mengatakannya secara langsung. Ada yang tetap bekerja, tersenyum, berbicara dengan orang lain, dan menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasa, meski sebenarnya sedang menghadapi tekanan psikologis.

Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian dalam edukasi kesehatan jiwa yang disampaikan oleh Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa IHC RS Pertamina Prabumulih, dr. Rahmaniah, Sp.KJ, dalam momentum Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia (World Suicide Prevention Day) yang diperingati setiap 10 September.

Melalui materi yang disampaikan, dr. Rahmaniah mengajak masyarakat untuk tidak hanya memperhatikan kesehatan fisik, tetapi juga lebih peka terhadap perubahan kondisi emosional dan perilaku orang-orang di sekitarnya.

Pesan tersebut sejalan dengan perhatian Kementerian Kesehatan RI yang menekankan pentingnya mengenali masalah kesehatan jiwa sejak dini. Kemenkes menyebut bahwa persoalan kesehatan jiwa kerap tidak terlihat secara kasatmata sehingga seseorang dapat terlihat sehat secara fisik, tetapi sebenarnya sedang menghadapi masalah psikologis.

Tidak Semua Masalah Kesehatan Jiwa Terlihat

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang yang sedang mengalami tekanan psikologis belum tentu selalu menunjukkan kesedihan secara terbuka.

Ada orang yang masih bekerja seperti biasa, tetap berinteraksi dengan keluarga, bahkan masih mampu tersenyum dan bercanda. Namun, di balik aktivitas tersebut, bisa saja terdapat tekanan yang tidak diketahui oleh orang lain.

Karena itu, perubahan perilaku dan emosi perlu diperhatikan, terutama jika berlangsung secara konsisten dan cukup berbeda dari kondisi seseorang sebelumnya.

Kemenkes menyebut beberapa perubahan yang perlu diperhatikan, antara lain gangguan pola tidur, mudah tersinggung, kecemasan berlebihan, kesulitan berkonsentrasi, perubahan berat badan, perubahan pola bicara, serta perubahan aktivitas yang mencolok.

Sementara itu, WHO juga mencatat sejumlah tanda peringatan yang perlu diperhatikan, seperti menarik diri dari lingkungan sosial, perubahan suasana hati yang berat, mengungkapkan perasaan tidak memiliki alasan untuk hidup, merasa menjadi beban, maupun berbicara mengenai keinginan mengakhiri hidup.

Namun, tanda-tanda tersebut tidak boleh digunakan untuk melakukan diagnosis sendiri. Penilaian kondisi kesehatan jiwa tetap membutuhkan tenaga profesional.

Pencegahan Bunuh Diri Membutuhkan Kepedulian Bersama

WHO menegaskan bahwa bunuh diri merupakan persoalan kesehatan masyarakat yang kompleks. Faktor yang berkontribusi dapat berasal dari berbagai aspek, termasuk kondisi psikologis, sosial, lingkungan, pengalaman kehilangan, konflik, kekerasan, isolasi sosial, maupun tekanan hidup.

Karena penyebabnya beragam, pencegahan juga tidak dapat dibebankan hanya kepada tenaga kesehatan.

Keluarga, teman, rekan kerja, sekolah, tempat kerja, komunitas, hingga pemerintah memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan jiwa.

Kemenkes juga menekankan bahwa masyarakat tidak harus menjadi ahli kesehatan jiwa untuk memberikan pertolongan awal. Dalam edukasi terbaru pada September 2026, Kemenkes memperkenalkan pendekatan sederhana “Tanya, Dengarkan, Temani, dan Hubungkan.”

Baca Juga:  PGLII KOTA BANDUNG BERSAMA GKKI COCC gelar PGLII Peduli Berbagi Rice Box

Tanya, ketika melihat seseorang mengalami perubahan dan tampak sedang menghadapi masalah.

Dengarkan, dengan memberikan kesempatan kepada orang tersebut untuk bercerita tanpa langsung menghakimi atau memberikan penilaian.

Temani, agar orang tersebut mengetahui bahwa dirinya tidak harus menghadapi persoalan seorang diri.

Kemudian Hubungkan, yaitu membantu orang tersebut mendapatkan dukungan dari keluarga, tenaga kesehatan, psikolog, psikiater, atau layanan profesional lainnya ketika dibutuhkan.

Bertanya tentang Kondisi Seseorang Tidak Membuatnya Ingin Bunuh Diri

Salah satu hal yang masih menjadi kekhawatiran masyarakat adalah anggapan bahwa membicarakan bunuh diri justru dapat memicu seseorang melakukan tindakan tersebut.

WHO menyatakan bahwa menanyakan secara langsung kepada seseorang apakah ia sedang memiliki pikiran untuk bunuh diri tidak membuat seseorang menjadi lebih mungkin melakukan bunuh diri. Sebaliknya, percakapan yang dilakukan dengan empati dapat membantu seseorang merasa dipahami dan membuka jalan untuk mendapatkan pertolongan.

Karena itu, ketika seseorang menunjukkan perubahan yang mengkhawatirkan, pertanyaan sederhana dapat menjadi langkah awal.

Misalnya, “Kamu akhir-akhir ini kelihatan berbeda. Kamu baik-baik saja?”

Jika orang tersebut mulai bercerita, berikan ruang untuk menyampaikan perasaannya.

Tidak perlu buru-buru membandingkan masalahnya dengan masalah orang lain. Hindari pula respons seperti “Jangan terlalu dipikirkan”, “Kamu harus kuat”, atau “Masih banyak orang yang masalahnya lebih berat.”

Kalimat-kalimat tersebut mungkin dimaksudkan untuk memberi semangat, tetapi dapat membuat seseorang merasa bahwa emosinya tidak dipahami.

Mengenali Tanda yang Membutuhkan Pertolongan

WHO menjelaskan bahwa tanda peringatan dapat muncul dalam bentuk ucapan maupun perubahan perilaku. Di antaranya adalah seseorang berbicara mengenai keinginan untuk mati, merasa tidak ada alasan untuk hidup, merasa menjadi beban bagi orang lain, menarik diri dari lingkungan, mencari cara untuk mengakhiri hidup, atau berpamitan dengan orang-orang terdekat.

Kemenkes juga mengingatkan masyarakat mengenai sejumlah tanda yang perlu mendapatkan perhatian, termasuk berbicara tentang kematian atau keinginan bunuh diri, merasa tidak memiliki jalan keluar, mengalami perasaan bersalah atau malu yang sangat berat, serta melakukan tindakan menyakiti diri.

Tidak semua orang akan menunjukkan tanda yang sama. Karena itu, perubahan yang signifikan dari kebiasaan seseorang patut menjadi perhatian.

Jika seseorang berada dalam kondisi yang dianggap berisiko segera menyakiti dirinya, jangan membiarkannya sendirian. Segera cari bantuan profesional atau layanan kegawatdaruratan.

Stigma Dapat Menjadi Penghalang untuk Mendapatkan Bantuan

Selain persoalan kesehatan itu sendiri, stigma menjadi salah satu tantangan dalam penanganan kesehatan jiwa.

WHO menyebut stigma dan tabu seputar gangguan mental serta bunuh diri dapat membuat seseorang yang membutuhkan pertolongan enggan mencari bantuan. Karena itu, membangun percakapan yang lebih terbuka dan mengurangi stigma menjadi bagian penting dari pencegahan.

Baca Juga:  Sembari Membantu Warga Binaan, Babinsa Koramil 1417-06/Unaaha Juga Belajar Ilmu Pertukangan

Hal ini juga menjadi perhatian Kemenkes yang terus mendorong masyarakat agar tidak ragu mencari pertolongan ketika mengalami masalah kesehatan jiwa.

Mencari bantuan bukan berarti seseorang lemah.

Sebaliknya, mencari pertolongan merupakan langkah penting untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.

Dokter spesialis kedokteran jiwa, psikolog, dan tenaga kesehatan lainnya dapat membantu seseorang memahami kondisi yang dialami serta menentukan langkah penanganan yang diperlukan.

Ada Bantuan Ketika Seseorang Mengalami Krisis

Kementerian Kesehatan juga menyediakan Healing119, sebuah layanan dukungan kesehatan mental dan pertolongan psikologis awal yang dapat diakses masyarakat.

Layanan tersebut menyediakan dukungan emosional dan konsultasi dasar bagi masyarakat yang mengalami tekanan psikologis, termasuk kondisi krisis. Healing119 juga dapat membantu menghubungkan seseorang dengan layanan lanjutan apabila diperlukan.

Masyarakat dapat mengakses layanan melalui 119 ekstensi 8 atau melalui laman Healing119.id.

Untuk kondisi yang mengancam keselamatan secara langsung, masyarakat juga dapat mengakses PSC 119, layanan cepat tanggap darurat kesehatan Kementerian Kesehatan.

Satu Kepedulian Bisa Berarti

Melalui edukasi yang disampaikan dr. Rahmaniah, Sp.KJ dari IHC RS Pertamina Prabumulih, masyarakat diajak memahami bahwa menjaga kesehatan jiwa bukan hanya persoalan individu.

Ada peran keluarga yang dapat memberikan dukungan. Ada teman yang dapat mendengarkan. Ada lingkungan kerja yang dapat menciptakan ruang aman. Ada sekolah yang dapat menjadi tempat anak dan remaja merasa diterima. Dan ada tenaga profesional yang dapat memberikan pertolongan ketika kondisi membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Pencegahan bunuh diri juga tidak cukup dilakukan ketika seseorang sudah berada dalam kondisi krisis. WHO merekomendasikan berbagai pendekatan berbasis bukti, termasuk meningkatkan keterampilan sosial-emosional pada remaja, mengenali dan menangani orang yang terdampak perilaku bunuh diri secara dini, serta membangun kolaborasi lintas sektor.

Karena itu, kepedulian dapat dimulai dari lingkungan paling dekat.

Tidak perlu menunggu seseorang meminta pertolongan.

Ketika melihat perubahan pada orang yang kita kenal, tanyakan kondisinya. Dengarkan ceritanya. Temani ketika ia membutuhkan dukungan. Kemudian hubungkan dengan bantuan profesional apabila diperlukan.

Sebab, terkadang seseorang tidak membutuhkan kalimat yang sempurna.

Mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau berhenti sejenak, melihat mereka, mendengarkan, dan mengatakan bahwa mereka tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

Satu kepedulian bisa berarti. Satu percakapan bisa menjadi awal pertolongan. Dan satu tindakan untuk hadir bisa menjadi langkah penting menuju keselamatan.

Sumber rujukan :

Dokter Rahmaniah, Sp.KJ (Dokter Kesehatan Jiwa RS Pertamina Prabumulih)

Artikel ini diperkaya berdasarkan materi dan informasi resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia serta World Health Organization (WHO) mengenai kesehatan jiwa, tanda peringatan bunuh diri, pencegahan, dukungan sosial, deteksi dini, dan akses pertolongan.

Trending Topic

Leave A Reply

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Top News

IHC RS Pertamina Prabumulih Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis di Smanda Event ke-11

PRABUMULIH — IHC RS Pertamina Prabumulih kembali hadir lebih dekat dengan masyarakat melalui layanan pemeriksaan kesehatan gratis dalam rangkaian Smanda Event ke-11 yang digelar...

Sigap di Tengah Konser Utopia Band, IHC RS Pertamina Prabumulih Jadi Tim Emergency Uthopia Smanda Event ke-11

PRABUMULIH — Di tengah riuhnya musik dan antusiasme para pelajar dalam Konser Band Uthopia Smanda Event ke-11 yang digelar pada 10 September 2026, kehadiran...

Hari Olahraga Nasional, IHC RS Pertamina Prabumulih: Kita Berolahraga Bukan Sekadar Agar Kuat, Tetapi Agar Tetap Sehat untuk Orang yang Kita Cintai

PRABUMULIH – Memperingati Hari Olahraga Nasional (Haornas), IHC RS Pertamina Prabumulih hadir memberikan pesan penting kepada masyarakat tentang arti olahraga dan aktivitas fisik bagi...

BPI KPNPA RI Bogor Sorot Marwah APH dan Alarm Moral Kabupaten Bogorr

BOGOR, JURNALISWARGA.ID — Badan Peneliti Independen Kekayaan Penyelenggara Negara dan Pengawas Anggaran Republik Indonesia (BPI KPNPA RI) Kabupaten Bogor melontarkan kritik keras terhadap dinamika...

BPI KPNPA RI Soroti Dugaan Jual Beli Stand PD Pasar Surya: Aset Pemkot Jangan Jadi Bancakan

SURABAYA, JURNALISWARGA.ID – Dugaan penyimpangan dalam pengelolaan aset dan stand pasar milik Pemerintah Kota Surabaya kembali menjadi sorotan. Badan Peneliti Independen Kekayaan Penyelenggara Negara...

 

ARTIKEL TERKAIT