JurnalisWarga.id,Bogor- Terjawab sudah kebimbangan sahabat saya Jasiman Sitorus untuk membuka katering/rumah makan. Dari kemarin seperti mbulet atau kawatir nanti rumah makannya tidak laku, sampai-sampai saya ditawarin ikut Join kerjasama.
Kenapa sampai begitu? Menurut dia (Jasiman) ” Agak susah pak ustadz kalau orang batak buka rumah makan ” Loh kenapa? Tanyaku ” Ntar nga laku, karena masakan kami tidak sama dengan kebanyakan orang Bogor “
Sampai disitu saya agak curiga, ternyata benar setelah tadi sore menghadiri launching rumah makan, saya baru tahu, ada kode-kode tertentu seperti B1, B2 dan seterusnya masakan yang dilarang oleh agama mayoritas di Bogor ini.
Dari keterangan menu makanan, menurut saya mereka toleran. Artinya menyediakan masakan yang tidak dilarang oleh kaum kebanyakan.
Memang batul ada pribahasa_ dimana bumi diinjak disitu langit dijunjung_ tapi tidak segitunya sampai khawatir untuk berusaha mencari untung.
” Sudah buka saja, nga perlu kawatir, ntar juga ada pembelinya, semoga Tuhan memudahkan usaha abang” Jawab ku menyakinkan.
Dari kisah ini saya menjadi faham bahwa tidak semua warga bangsa bebas berusaha dan memilih keyakinannya. Ada Kekawatiran dan takut kalau keyakinannya diketahui banyak orang, takut di swiping, digeruduk dsb.
Saya seperti heran, padahal kemerdekaan bangsa ini sudah 76 tahun masih ada warga yang merasa terkekang dinegerinya sendiri.
Sebelum pulang, kecurigaan saya tidak betul, saya disiapin makanan yang memang boleh dimakan oleh saya dan enak rasanya..
Salam merdeka 100%
Red*/Aris








