MERAUKE, JURNALISWARGA.ID — Kemandirian benih menjadi fokus Tim 9 Ekspedisi Patriot IPB Kementerian Transmigrasi 2026 dalam mendampingi petani di Kampung Padang Raharja, Distrik Malind, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Sebanyak 40 petani, penyuluh pertanian lapangan, aparat kampung, dan anggota kelompok tani mengikuti pelatihan budidaya serta produksi benih cabai pada Jumat (2/10/2026).
Ketua Tim 9 Ekspedisi Patriot IPB, Prof. Dr. Muhamad Syukur, mengatakan kemampuan menghasilkan benih sendiri merupakan bagian penting dari penguatan usaha tani. Petani, kata dia, tidak cukup hanya mampu meningkatkan produksi, tetapi juga perlu menguasai salah satu sumber utama produksi pertanian.
“Petani jangan hanya menjadi pengguna benih. Kita ingin petani memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk memproduksi benih yang bermutu, menjaga kemurnian varietas, dan memahami bagaimana benih itu diuji sebelum digunakan,” kata Muhamad Syukur.
Materi yang diberikan mencakup pemilihan komoditas sesuai kondisi wilayah, teknik budidaya cabai, produksi benih non-hibrida, pemurnian varietas, hingga sertifikasi. Sugiati yang mewakili Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Merauke menjelaskan bahwa pengembangan hortikultura perlu disesuaikan dengan karakter dan potensi masing-masing wilayah.
Dosen IPB, Dr. Zulfikar Damaralam, memperkenalkan Cabai Rawit Bonita IPB yang dilepas pada 2021 dengan produktivitas 16,73 ton per hektare dan Cabai Keriting Neno Tavi IPB yang dilepas pada 2023 dengan potensi hasil 13–20 ton per hektare. Peserta juga mempelajari produksi benih mulai dari pemilihan buah, ekstraksi, pengeringan, penyortiran, pengujian daya berkecambah, hingga pengemasan.
Benih dikeringkan pada suhu 40 derajat Celsius selama 48 jam hingga kadar air mencapai 14 persen, kemudian diuji menggunakan Uji Kertas Digulung (UKD). “Produksi benih bukan hanya mengambil biji dari buah cabai. Ada proses pengolahan, pengeringan, pemilahan, dan pengujian yang menentukan mutu benih sebelum digunakan,” ujar Zulfikar.
Sementara itu, Pengawas Benih Tanaman Ahli Madya Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian, Langgeng Muhono, SP, MP, menjelaskan bahwa benih bermutu harus memiliki identitas dan kebenaran varietas, memenuhi persyaratan fisik dan kesehatan, serta memiliki kemampuan tumbuh sesuai standar. Pada cabai bersari bebas, kemurnian varietas dijaga melalui seleksi dan pemeriksaan lapangan maupun pascapanen, termasuk pengendalian tanaman volunteer, gulma sumber penyakit, dan serangga vektor virus.
Kepala Bidang Transmigrasi, Alhari Rimbo, ST, menyampaikan dukungan terhadap penguatan kapasitas petani tersebut. Menurutnya, kemampuan memproduksi benih dapat menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian pertanian di Kawasan Transmigrasi Salor.
Mewakili Pemerintah Distrik Malind, Kepala Seksi Pemerintahan Umum, Farkan, S.IP, menyampaikan apresiasinya atas kolaborasi akademisi dan pemerintah pusat dalam memberdayakan warga setempat.
“Pelatihan ini sangat penting bagi kawasan transmigrasi seperti Malind. Kami berharap ilmu yang dibawa oleh Tim IPB dapat diserap dengan baik oleh para petani, sehingga kedepan Distrik Malind tidak hanya menjadi sentra produksi cabai tetapi juga pusat benih lokal yang tangguh,” ujar Farkan.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Kampung Padang Raharja, Maryono, menyambut baik dan bersyukur atas terpilihnya Kampung Padang Raharja sebagai tempat pendampingan program ini.
“Selama ini produksi cabai di padang raharja relatif rendah dikarenakan faktor lahan dan ketersediaan air, selain itu, kami bergantung pada benih luar yang harganya relatif tinggi. Dengan adanya pelatihan dan bimbingan teknis ini, warga kami jadi paham cara menghasilkan benih bermutu sendiri. Ini sebuah langkah besar untuk kemandirian ekonomi petani di kampung kami,” ungkap Maryono.
Prof. Muhamad Syukur menegaskan bahwa pengetahuan yang diberikan tidak boleh berhenti di ruang pelatihan. Perguruan tinggi, menurutnya, perlu mempertemukan pengetahuan ilmiah dengan pengalaman petani agar dapat diterapkan sesuai kondisi lapangan.
“Petani punya pengalaman menghadapi tanah, tanaman, iklim, dan kondisi wilayah setiap hari. Perguruan tinggi membawa pengetahuan dan teknologi. Kalau keduanya dipertemukan dengan dukungan pemerintah, kita tidak hanya mengejar produksi, tetapi membangun kemampuan petani agar pertanian di kampung ini semakin mandiri dan berkelanjutan,” katanya.
Melalui penguasaan budidaya sekaligus perbenihan, petani Padang Raharja diharapkan tidak hanya meningkatkan hasil cabai, tetapi mulai membangun kemampuan untuk menyediakan benih bermutu secara mandiri sebagai bagian dari penguatan sistem pertanian di Kawasan Transmigrasi Salor.(red)
