Merauke, JURNALISWARGA.ID — Tim 8 dan 9 Ekspedisi Patriot IPB Kementerian Transmigrasi menyelenggarakan Pelatihan dan Bimbingan Teknis Budidaya dan Produksi Benih Padi IPB 9G di Kampung Kumbe pada 23 Oktober 2026 dan Kampung Padang Raharja pada 24 Oktober 2026. Kegiatan berlangsung di Distrik Malind, Kawasan Transmigrasi Salor, Kabupaten Merauke.
Pelatihan diikuti oleh 40 petani dari Kampung Kumbe dan 40 petani dari Kampung Padang Raharja. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman petani tentang sertifikasi dan mutu benih, membekali mereka dengan keterampilan mengenali benih bermutu dan bersertifikat, serta mempersiapkan calon penangkar benih padi. Melalui kegiatan ini, tim juga menghimpun persoalan petani terkait akses, ketersediaan, mutu, dan penggunaan benih sebagai masukan untuk pendampingan pertanian di wilayah tersebut.
Sebagai bagian dari kegiatan, demplot padi varietas IPB 9G seluas 2 hektare dilaksanakan di Kampung Padang Raharja. IPB 9G merupakan varietas padi gogo hasil pemuliaan Institut Pertanian Bogor yang adaptif di lahan kering. Tanamannya tegak dan memiliki jumlah anakan yang relatif sedikit, sehingga berpotensi cocok untuk sistem tebar langsung yang digunakan petani di Kawasan Salor. Potensi hasilnya mencapai 9 ton per hektare dan, dalam kondisi budidaya yang optimal, dapat mencapai 12 ton per hektare. IPB 9G juga dikenal sebagai padi amfibi karena dapat dibudidayakan di lahan kering maupun lahan sawah, dengan potensi produktivitas lebih tinggi di lahan sawah.

Materi pertama disampaikan oleh Kepala Dinas Tanaman Pangan, Pertanian, Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Selatan, Paino, S.IP., MT, dengan tema “Dukungan Pemerintah Provinsi Papua Selatan dalam Percepatan Kemandirian Penyediaan Benih Tanaman Pangan Daerah”. Ia memaparkan pentingnya benih bermutu bagi ketahanan pangan, potensi dan tantangan pengembangan perbenihan di Papua Selatan, serta perlunya penguatan kapasitas penangkar lokal dan dukungan pemerintah daerah. Materi juga membahas peran Ekspedisi Patriot dalam mengidentifikasi potensi dan kebutuhan benih serta strategi membangun sistem perbenihan yang berkelanjutan.
Materi “Produksi dan Pengolahan Benih Padi Bersertifikat” disampaikan oleh Prof. Dr. Muhamad Syukur di Kampung Kumbe dan Dr. Zulfikar Damaralam Sahid di Kampung Padang Raharja. Peserta mempelajari pengenalan varietas padi IPB 9G, pemeriksaan pH dan kesuburan tanah, pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan tanaman, serta pengendalian organisme pengganggu tanaman. Materi turut mencakup roguing tanaman untuk menjaga kemurnian varietas, panen, penanganan pascapanen, pengujian mutu, dan penyimpanan benih.
Sementara itu, Langgeng Muhono, SP, MP, menyampaikan materi “Sertifikasi dan Pemeliharaan Mutu Benih Padi”. Peserta mendapat penjelasan mengenai pentingnya sertifikasi, pengenalan karakteristik varietas melalui bentuk batang, daun bendera, malai, dan gabah, serta pencegahan pencampuran varietas melalui isolasi. Mereka juga mempelajari roguing pada fase vegetatif, berbunga, dan menjelang panen, serta pengamatan karakteristik tanaman saat masak.
Pelatihan ini diharapkan memperkuat kemampuan petani dalam memproduksi benih padi yang bermutu dan menjaga kemurnian varietas. Kegiatan tersebut juga menjadi langkah awal untuk mengembangkan penangkar benih lokal dan mendukung kemandirian penyediaan benih tanaman pangan di Kawasan Transmigrasi Salor.
Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Distrik Malind, Kepala Kampung Kumbe, Kepala Kampung Padang Raharja, serta Kepala Bidang Transmigrasi Provinsi Papua Selatan. Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut mencerminkan dukungan terhadap penguatan kapasitas petani dan pengembangan perbenihan padi di Kawasan Transmigrasi Salor.(Red)
