DEPOK, JURNALISWARGA.ID — Panitia Saresehan Inohong Jawa Barat Ke-2 resmi dibentuk di Depok, Jawa Barat, Senin (18/8/2026). Forum tersebut disiapkan sebagai ruang silaturahmi sekaligus perumusan gagasan pembangunan Jawa Barat yang berpijak pada kearifan lokal dan kebutuhan masyarakat desa.
Saresehan Inohong Jawa Barat menjadi wadah pertemuan tokoh masyarakat, budayawan, inohong, serta aktivis desa dari berbagai wilayah di Jawa Barat untuk membahas sejumlah isu strategis daerah.
Mengusung tema “Ngariung Bareng, Nata Jawa Barat, Nya’ah ka Lembur”, kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat komunikasi antara tokoh masyarakat dan pemangku kepentingan pembangunan daerah.
Ketua Panitia Pelaksana menyampaikan, forum tersebut diharapkan mampu menyatukan gagasan para inohong dengan menghadirkan perspektif masyarakat dari tingkat desa.
“Tujuan utama kita adalah menyatukan pikiran para inohong. Dari desa untuk Jawa Barat. Dari akar rumput untuk kebijakan provinsi,” ujarnya.
Ucu Permana Dipercaya Perkuat Jejaring Desa
Dalam struktur kepanitiaan, Ucu Permana ditunjuk sebagai Ketua Umum Peserta & Jejaring Desa. Penunjukan tersebut dinilai strategis untuk memperkuat keterhubungan antara forum tingkat provinsi dengan persoalan yang dihadapi masyarakat di tingkat desa.
Ucu Permana dikenal dengan semboyan “Mulang ka Indung, Nyaah ka Kampung”, yang menekankan kedekatan dengan masyarakat dan kepedulian terhadap pembangunan kampung.
“Penunjukan Kang Ucu diharapkan bisa menjadi jembatan antara inohong di tingkat provinsi dengan persoalan nyata di tingkat desa. Desa-desa lain harus didengar,” kata Ketua Panitia.
Peran tersebut diharapkan dapat membuka ruang komunikasi yang lebih luas bagi berbagai desa di Jawa Barat untuk menyampaikan aspirasi, gagasan, maupun kebutuhan pembangunan kepada pemangku kebijakan.
Tiga Agenda Strategis
Saresehan Inohong Jawa Barat Ke-2 akan memfokuskan pembahasan pada tiga agenda utama.
Pertama, penguatan desa, meliputi kedaulatan desa, pengelolaan APBDes, serta pengembangan UMKM lokal.
Kedua, pelestarian budaya Sunda, khususnya bahasa, seni, tradisi, dan nilai gotong royong sebagai bagian dari identitas masyarakat Jawa Barat.
Ketiga, perumusan rekomendasi kebijakan yang nantinya diharapkan dapat menjadi masukan bagi Pemerintah Provinsi Jawa Barat serta pemerintah kabupaten dan kota.
Panitia menilai keterlibatan tokoh masyarakat dan jejaring desa penting agar kebijakan pembangunan tidak hanya disusun berdasarkan perspektif birokrasi, tetapi juga mempertimbangkan aspirasi masyarakat di tingkat akar rumput.
Dorong Desa dan Budaya Jadi Kekuatan Jawa Barat
Saresehan Inohong Jawa Barat Ke-2 diharapkan tidak berhenti sebagai forum silaturahmi, tetapi menghasilkan gagasan dan rekomendasi yang konstruktif bagi pembangunan daerah.
Panitia berharap forum tersebut dapat menjadi momentum untuk mendorong lahirnya pemimpin-pemimpin desa yang memiliki kepedulian terhadap masyarakat sekaligus mampu menjaga nilai dan budaya Sunda.
Sementara waktu dan lokasi pelaksanaan Saresehan Inohong Jawa Barat Ke-2 akan diumumkan setelah rapat pleno panitia tahap II.
Sumber: Rilis Pers Panitia Saresehan Inohong Jawa Barat Ke-2, Nomor 01/PAN-SAR/JABAR/VIII/2026, 18 Agustus 2026.
