JAKARTA, Jurnaliswarga.id – Komitmen Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk seluruh rakyat Indonesia terus menunjukkan hasil nyata. Melalui berbagai program strategis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), pemerintah mempercepat pembangunan sumber daya manusia unggul sebagai bagian dari implementasi Asta Cita keempat Presiden Prabowo.
Dalam pertemuan di Istana Merdeka, Jakarta, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, melaporkan capaian sejumlah program prioritas yang berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan, kesejahteraan guru, serta pemerataan akses pembelajaran modern di seluruh Indonesia.
Program Revitalisasi Satuan Pendidikan menjadi salah satu langkah strategis pemerintah yang berhasil menunjukkan capaian signifikan. Hingga tahun 2025, revitalisasi telah terealisasi 100 persen dengan menjangkau 16.167 satuan pendidikan melalui dukungan anggaran lebih dari Rp16,9 triliun.
Sementara pada tahun 2026, pelaksanaan revitalisasi terus dipercepat. Sebanyak 11.744 sekolah telah memasuki tahap pengerjaan dan sebagian besar ditargetkan selesai pada Juli hingga Agustus 2026 sehingga dapat digunakan pada awal tahun ajaran baru 2026/2027.
Menteri Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa program revitalisasi tidak hanya meningkatkan kualitas sarana pendidikan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat melalui sistem swakelola.
“Program ini diperkirakan mampu menyerap sekitar 1,1 juta tenaga kerja dengan masa pekerjaan antara tiga hingga delapan bulan,” ujarnya.
Selain pembangunan fisik sekolah, pemerintah juga terus mendorong transformasi digital pendidikan. Sepanjang tahun 2025, Kemendikdasmen telah mendistribusikan sebanyak 288.865 perangkat Interactive Flat Panel (IFP) ke berbagai satuan pendidikan di Indonesia. Pemanfaatan teknologi tersebut terbukti membantu meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus memperkuat motivasi belajar peserta didik.
Di bidang kesejahteraan guru, Presiden Prabowo menunjukkan keberpihakannya kepada tenaga pendidik melalui kebijakan penyaluran Tunjangan Profesi Guru (TPG) secara langsung ke rekening masing-masing guru ASN sebesar satu kali gaji pokok setiap bulan. Sementara guru non-ASN yang telah tersertifikasi menerima tunjangan sebesar Rp2 juta per bulan.
Kebijakan tersebut mendapat respons positif dari kalangan pendidikan karena dinilai mampu memangkas birokrasi sekaligus memastikan manfaat program diterima langsung oleh para guru.
Tak hanya itu, peningkatan kompetensi guru juga menjadi perhatian serius pemerintah. Pada tahun 2025, sebanyak 12.500 guru yang belum berkualifikasi D4 atau S1 menerima beasiswa melalui skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Program tersebut diperluas pada tahun 2026 dengan target mencapai 150.000 guru penerima beasiswa.
Langkah besar ini dinilai semakin memperkuat fondasi pendidikan nasional sekaligus mendukung lahirnya generasi unggul yang mampu bersaing di tingkat global.
Berbagai capaian tersebut menunjukkan keseriusan pemerintahan Presiden Prabowo dalam membangun sektor pendidikan sebagai investasi jangka panjang bangsa. Melalui program revitalisasi sekolah, digitalisasi pembelajaran, peningkatan kesejahteraan, dan penguatan kompetensi guru, pemerintah optimistis mampu menghadirkan pendidikan yang berkualitas, merata, dan inklusif bagi seluruh anak Indonesia.(Red/nR)
Sumber Informasi:
Siaran Pers Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor: 492/Sipers/A6/VI/2026, 13 Juni 2026.
