Di usia yang telah melewati kepala tujuh, Prabowo Subianto seharusnya sudah menikmati masa pensiun yang tenang dan damai.
Namun, bagi Presiden Republik Indonesia ini, panggilan ibu pertiwi jauh lebih nyaring ketimbang keinginan pribadi untuk beristirahat.
Langkah kakinya di koridor istana bukanlah bentuk pengejaran terhadap kemewahan jabatan, melainkan sebuah manifestasi keikhlasan murni seorang patriot yang ingin melihat rakyatnya sejahtera, ketidakadilan ditumpas, dan kedaulatan negara tegak seutuhnya.
Keikhlasan ini terlihat dari komitmennya yang tanpa henti untuk mengembalikan aset-aset strategis bangsa ke tangan rakyat dan memastikan tidak ada lagi intervensi asing yang merugikan tanah air.
Bagi Prabowo, kedaulatan bukan sekadar kata tanpa makna di dalam teks proklamasi, melainkan harga diri bangsa yang harus diperjuangkan hingga napas terakhir.
Tantangan dari Dalam dan Realita Birokrasi
Memimpin sebuah negara sebesar Indonesia dengan kompleksitas permasalahannya tentu bukan perkara mudah.
Dalam perjalanan pemerintahannya, publik kerap kali menyoroti adanya ketidakkompetenan atau kesalahan fatal di tingkat kementerian maupun lembaga setara kementerian.
Namun, menimpakan seluruh kesalahan tersebut di pundak presiden semata adalah sebuah pandangan yang tidak adil.
Sebagai kepala negara, Prabowo Subianto telah meletakkan visi besar dan arah kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil.
Mengelola pemerintahan yang gemuk berarti mengandalkan banyak kepala.
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa perjuangan tulus presiden sering kali dirongrong dari dalam oleh oknum-oknum yang lambat beradaptasi, tidak kompeten, atau bahkan memiliki agenda pribadi yang bertolak belakang dengan visi presiden. Ketidakselarasan di tingkat pembantu presiden inilah yang sering kali menghambat eksekusi program kesejahteraan rakyat, menjadi duri dalam daging yang memperlambat laju roda keadilan.
Menjaga Harapan dan Mendukung Visi Besar
Sejarah mengajarkan kita bahwa seorang pemimpin yang ikhlas membutuhkan dukungan moral yang kuat dari rakyatnya.
Di tengah berbagai dinamika internal kabinet dan rongrongan birokrasi, konsistensi Prabowo untuk tetap fokus pada pemberantasan kemiskinan dan penegakan hukum harus diapresiasi.
Keikhlasannya bekerja di usia senja adalah bukti nyata bahwa dedikasi terhadap bangsa tidak mengenal batas umur.
Tugas kita sebagai warga negara adalah menyaring informasi dengan bijak, memahami peta tantangan yang dihadapi pemimpin, dan mengawal bersama visi mulia mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, dan berdaulat.
Oleh : Rizwan riswanto
