Jakarta, Jurnaliswarga.id – Hadapi Tantangan Kota Global, Anak Muda Jakarta Perlu Keahlian dan Visi Masa Depan 2026, di Gedung Dewan Perkebunan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta menjadi saksi dari sebuah kritik tajam yang menyentuh akar persoalan paling fundamental di ibu kota, yaitu nasib dan arah masa depan generasi muda, Di tengah hiruk-pikuk pembahasan program kerja pemerintah kota, terselip sebuah refleksi mendalam yang dilontarkan oleh Anggota DPRD DKI Jakarta, Josephine Simanjuntak dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI)
Bukan sekadar mengkritik angka-angka statistik pengangguran atau fasilitas publik, Josephine berlatar belakang dari aktvis ini menyoroti sebuah krisis yang kerap luput dari pandangan para pembuat kebijakan, krisis kompetensi, orientasi, dan nasionalisme di kalangan anak muda Jakarta.
“Mau bekerja di perusahaan pun mereka sudah tidak mampu. Kenapa? Karena keahlian sekolahnya sudah tidak ada,” ujar Josephine Komisi C ini saat rapat kerja bersama eksekutif dengan nada prihatin.
Pernyataan dari Legislator Jakarta ini bukan sekadar isapan jempol. Di era modern di mana Jakarta bertransformasi menjadi kota global, jurang pemisah antara dunia pendidikan formal dengan kebutuhan industri nyata masih menganga lebar didepan mata.

Banyak sekali pemuda Jakarta lulus tanpa skill yang memadai untuk merespons pasar kerja yang semakin kompetitif, meninggalkan mereka dalam lingkaran kebingungan sosial dan ekonomi.
Bayang-Bayang “Masa Depan Tanpa Visi”,
lebih jauh, Josephine menyoroti fenomena psikologis dan mentalitas generasi muda masa kini yang menurutnya sangat mengkhawatirkan.
Wakil Rakyat Jakarta ini melihat adanya kecenderungan hilangnya daya juang lokal dan orientasi masa depan yang kabur.
“Anak muda sekarang yang kadang membuat saya tersenyum miris dalam hati tidak punya inovasi tentang apa yang mau mereka capai. Orientasi mereka malah ke luar negeri, mereka tidak pernah membayangkan tentang Indonesia, seperti apa masa depan Indonesia, dan bagaimana seharusnya kita membangun negeri ini,” tambahnya.
Kritik ini terasa sangat menohok, terutama jika ditarik benang merahnya dengan momentum Hari Sumpah Pemuda yang baru saja diperingati pada 28 Oktober lalu.
Tepat 98 tahun yang lalu, para pemuda dari berbagai penjuru Nusantara mengikrarkan satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa di tengah keterbatasan kolonialisme didorong oleh mimpi besar mendirikan sebuah bangsa yang berdaulat, mandiri, dan bermartabat.
Namun, pertanyaannya hari ini, di tengah gemerlap lampu kota metropolitan Jakarta, di manakah semangat “bertumpah darah satu” itu bersemayam? Ketika sebagian besar anak muda lebih bermimpi menjadi warga negara asing atau kehilangan kepekaan terhadap pembangunan tanah airnya sendiri, Sumpah Pemuda sebatas menjadi seremoni tahunan tanpa denyut jiwa.
Melampaui retorika, membangun kreativitas, bukan sekadar seremoni
Menurut Josephine, sudah saatnya pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan berhenti terlena dengan program-program permukaan.
Ia secara tegas mengingatkan agar fokus pembangunan pemuda tidak terjebak pada hal-hal yang bersifat seremonial belaka, seperti rutinitas kegiatan olahraga tanpa orientasi pemberdayaan yang jelas.
“Jangan cuma bicara tentang olahraga terus-menerus, tetapi bagaimana membangun anak muda ini agar bisa kreatif ke depan dalam menghadapi tantangan hidup,” tegasnya.
Refleksi dari Josephine Simanjuntak ini adalah sebuah lonceng alarm bagi Jakarta. Jika ibu kota ingin benar-benar menjadi pusat ekonomi dunia yang berdaya saing, transformasi tidak boleh hanya berfokus pada infrastruktur fisik beton dan jalan tol semata. Transformasi sejati harus dimulai dari ruang-ruang kelas, balai latihan kerja, dan pusat kreativitas komunitas, tempat di mana anak-anak muda Jakarta dibentuk kembali menjadi generasi yang memiliki keahlian nyata, mental inovatif, dan yang terpenting: cinta yang membara untuk membangun negerinya sendiri.(Red/Popi)
