KUPANG, JURNALISWARGA.ID – Komitmen pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas pendidikan melalui penguatan budaya literasi terus menunjukkan hasil positif. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memperkuat Gerakan Jam Belajar sebagai langkah strategis membangun ekosistem pendidikan berbasis keluarga yang berkelanjutan.
Kemendikdasmen dan Gubernur NTT Perkuat Gerakan Jam Belajar, Budaya Literasi Keluarga Kian Menguat di Nusa Tenggara Timur. Kebijakan tersebut diwujudkan melalui Peraturan Gubernur (Pergub) tentang Gerakan Jam Belajar di Lingkungan Masyarakat yang digagas Pemerintah Provinsi NTT di bawah kepemimpinan Gubernur NTT, Melkiades Laka Lena. Program ini mendapat apresiasi luas karena dinilai mampu meningkatkan keterlibatan orang tua dalam mendampingi proses belajar anak di rumah.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muksin, menegaskan bahwa peningkatan kualitas literasi bangsa membutuhkan partisipasi seluruh elemen masyarakat.
“Partisipasi semesta menjadi kunci untuk membangun ekosistem pendidikan yang bermutu dan berkeadilan. Literasi tidak bisa dibangun oleh satu pihak saja, tetapi harus tumbuh menjadi budaya yang hidup di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat,” ujar Hafidz.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan pendidikan nasional sangat bergantung pada kolaborasi antara pemerintah, sekolah, keluarga, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Sementara itu, Gubernur NTT Melkiades Laka Lena menjelaskan bahwa Gerakan Jam Belajar dirancang agar pendidikan tidak berhenti saat anak meninggalkan sekolah, melainkan terus berlanjut di lingkungan keluarga dengan pendampingan yang hangat dan penuh perhatian dari orang tua.
“Gerakan Jam Belajar ini mengatur agar ada partisipasi aktif orang tua dan sinergi dengan sekolah sehingga anak-anak tetap memiliki waktu belajar yang berkualitas di rumah dengan pendampingan penuh kasih sayang,” jelas Gubernur Melki.
Selain mendorong aktivitas belajar, kebijakan tersebut juga mengatur pembatasan penggunaan gawai di luar kebutuhan pembelajaran guna memperkuat interaksi positif dalam keluarga serta menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi tumbuh kembang anak.
Bunda Literasi Provinsi NTT, Mindriyati, menambahkan bahwa Gerakan Jam Belajar dilaksanakan secara rutin setiap Senin hingga Jumat di luar jam sekolah dan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing keluarga.
Program tersebut tidak hanya berfokus pada penyelesaian tugas sekolah, tetapi juga mencakup penguatan karakter, pendidikan keagamaan, peningkatan literasi membaca, pembelajaran budaya lokal, serta penguatan hubungan emosional antara orang tua dan anak.
Dalam rangka mendukung penguatan budaya literasi, Kepala Badan Bahasa bersama tim INOVASI juga melakukan audiensi dengan Gubernur NTT dan Bunda Literasi NTT untuk membahas pengutamaan bahasa Indonesia, pelestarian bahasa daerah, serta penguatan literasi berbasis budaya lokal.
Program INOVASI yang merupakan kemitraan Australia–Indonesia turut mendukung penguatan literasi dan numerasi dasar melalui pelatihan guru, distribusi buku bacaan nonteks, dan pengembangan pembelajaran berbasis konteks lokal.
Wakil Direktur INOVASI Bidang Pengembangan Ekosistem Pendidikan dan Manajemen Subnasional, Handoko Widagdo, menjelaskan bahwa pendekatan bahasa ibu yang diterapkan di sejumlah daerah di NTT terbukti membantu anak-anak memahami pembelajaran pada fase awal pendidikan.
“Pendekatan bahasa ibu membantu anak-anak memahami pembelajaran dengan lebih baik. Ini menjadi fondasi penting dalam membangun budaya literasi yang kuat sejak usia dini,” ujarnya.
Keberhasilan penguatan budaya literasi juga terlihat di Kabupaten Nagekeo yang saat ini menjadi daerah dengan tingkat kegemaran membaca tertinggi di Provinsi NTT. Bunda Literasi Kabupaten Nagekeo, Agustina Prawitowati, menyebut keberhasilan tersebut lahir dari sinergi pemerintah, sekolah, masyarakat, dan berbagai mitra pembangunan.
Melalui penyediaan taman baca ramah anak, perpustakaan sekolah yang menarik, serta program literasi yang terstruktur, minat baca anak-anak terus meningkat secara signifikan.
Langkah Kemendikdasmen dan Pemerintah Provinsi NTT ini mendapat respons positif dari masyarakat karena dinilai mampu membangun budaya belajar yang lebih kuat, mempererat hubungan keluarga, sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan secara menyeluruh.
Publik menilai Gerakan Jam Belajar merupakan inovasi yang relevan dengan tantangan zaman karena tidak hanya mendorong prestasi akademik, tetapi juga membentuk karakter, disiplin, dan kecintaan anak terhadap budaya membaca.
Dengan kolaborasi yang semakin kuat antara Kemendikdasmen, Pemerintah Provinsi NTT, sekolah, keluarga, dan masyarakat, upaya mewujudkan generasi Indonesia yang cerdas, berkarakter, dan berbudaya diyakini akan semakin cepat terwujud.(Red/nR)
Sumber Informasi:
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Program INOVASI.
