JURNALISWARGA.ID, BOGOR-Interpretasi tiap-tiap individu tentang Agama, Tuhan, Nabi, Kitab Suci, dll bisa berbeda. Masing-masing orang punya cara, pengalaman dan pengetahuannya sendiri, bagaimana menggambarkan dan meyakini semua itu (Al -‘lah al-mu’taqad) hal ini sama sekali tidak bisa diintervensi orang lain.
Pengetahuan dan keyakinan mengenal Tuhan adalah pengalaman yang sangat pribadi bagi setiap orang. Hal ini sesuai dengan hadits Qudsi ” Aku sesuai persangkaan hambaku tentang aku” -Ibn ‘Arabi, oleh karena itu tidak boleh seseorang mencela, menghina dan melecehkan keyakinan orang lain.
Nabi SAW bersabda “bahwa pada hari kiamat, Tuhan akan menampakkan diriNya kepada umat manusia dalam berbagai bentuk” walau Tuhan bisa bewujud dengan berbagai bentuk, tapi Tuhan tetap satu yaitu tuhan yang sama, Allah Swt. Terkait kayakinan individu ini Ibn ‘Arabi, mengumpamakan seperti warna air tergantung warna bejananya. Jadi dipersilahkan bagi setiap orang untuk menafsirkan tuhan dan agamanya sendiri. Sedangkan Ibn ‘Arabi menggambarkan agamanya dengan agama cinta. “Kemanapun kafilah cinta berada, disitulah agamaku”.
Banyak orang yang sejalan dengan pemikiran Ibn ‘Arabi menemukan Tuhan di ilmu pengetahuan dan seni. Dengan matematika kita bisa mengetahui bahwa Allah SWT, itu Maha Murni dan Tunggal, ilmu hukum adalah upaya meniru kelembutan dan keadilan Tuhan. Almarhum Beben Jazz, menemukan Tuhan di musik Jazz, penyair Umbu Landu Paranggi menemukan peta jalan menuju Tuhan.
Yang dilarang adalah mengklaim bahwa hanya gagasannya tentang agama adalah terbaik, hanya satu-satunya yang benar, sambil menyalahkan, mengkafirkan gagasan, penafsiran dan keyakinan orang lain.
Larangan klaim kebenaran sendiri ini berlaku kepada siapapun, baik yang beragama maupun yang tidak. ” lakum dinukum waliyadiin” keyakinanmu tentang Tuhan dan agama tidak harus sama dengan keyakinan orang lain, oleh karenanya tidak bisa seseorang memaksakan apa yang diyakini kepada orang lain, walau dibawah pengaruh kekuasaan sekalipun.
Ilmu pengetahuan, musik dan seni seperti sosok kekasih bagi mereka. Ketika mereka bersentuhan dengan kekasihnya itu, seolah mereka sedang bersentuhan dengan Tuhan. Jangan-jangan petani dan nelayan juga menemukan Tuhan diladang dan lautan.
Wallahu a’lam bisshawaab
Penulis :
Ustad M Rizal Aris
Pengasuh/Pendiri pondok pesantren Nanggerang
Mahasiswa Pascasarjana Filsafat Islam Sadra Jakarta
Ketua Bidang Pendidikan dan Pelatihan Dpc Ajwi kab. Bogor
