St. Petersburg, Rusia (Jurnaliswarga.id) — Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyampaikan pidato penting dalam Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg (SPIEF) 2025, yang dihadiri para pemimpin dunia seperti Presiden Rusia Vladimir Putin, Penasihat Keamanan Nasional Bahrain Pangeran Nasser bin Hamad al-Khalifa, Wakil Presiden Afrika Selatan Paul Machatile, serta Wakil Perdana Menteri Tiongkok Ding Zhejiang.
Dalam kesempatan itu, Presiden Prabowo menegaskan bahwa Indonesia memandang forum ini sebagai peluang strategis untuk membangun kepercayaan antarnegara di tengah situasi geopolitik yang makin kompleks. Ia menyebut SPIEF sebagai wadah unik yang mempertemukan pemimpin dari Barat, Selatan Global, Timur, serta kawasan Eurasia.
“Indonesia melihat pertemuan ini sebagai kesempatan untuk membangun kepercayaan strategis dan menjalin kesepakatan yang menguntungkan untuk kelangsungan dan keberhasilan bersama,” ujar Prabowo.

Presiden Prabowo yang baru dilantik pada 20 Oktober 2024 ini mengungkapkan tantangan besar yang dihadapi Indonesia sebagai negara keempat terbesar di dunia berdasarkan jumlah penduduk. “Setiap tahun, ada 5 juta penduduk baru di Indonesia—setara satu Singapura,” ungkapnya, menggambarkan skala tantangan dalam penyediaan pangan, pendidikan, dan layanan kesehatan.
Prabowo kemudian menyampaikan empat prioritas utama pemerintahannya:
1. Swasembada pangan,
2. Swasembada energi,
3. Peningkatan kualitas pendidikan,
4. Percepatan industrialisasi nasional.
Menurutnya, pemerintah yang baik adalah pemerintah yang melindungi rakyat dari kelaparan, kemiskinan, dan tekanan lingkungan. Ia juga mengingatkan bahwa sumber daya alam yang besar bisa menjadi berkah atau kutukan, tergantung bagaimana dikelola.

Lebih jauh, Prabowo menyampaikan kritik terhadap penerapan ekonomi neoliberal secara mentah di banyak negara Asia Tenggara. Ia menilai, mengikuti filosofi ekonomi dari kekuatan besar dunia tanpa mempertimbangkan konteks budaya dan sejarah masing-masing negara adalah kesalahan besar.
“Kita perlu jalan tengah—mengambil yang terbaik dari sosialisme dan kapitalisme. Sosialisme yang sempurna telah gagal. Kapitalisme yang liar pun tidak cocok bagi semua negara,” tegasnya.
Prabowo menutup pidatonya dengan menyampaikan harapan agar negara-negara di dunia mengembangkan kebijakan ekonomi yang sesuai dengan identitas dan kepentingan nasional masing-masing, demi menciptakan keadilan dan kemakmuran bersama.(nR)
