JAKARTA, Jurnaliswarga.id – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menegaskan komitmen pemerintah dalam memperkuat peran perguruan tinggi sebagai mitra strategis pembangunan nasional melalui penyelenggaraan Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026. Forum nasional tersebut menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia industri, dan masyarakat untuk menghasilkan solusi berbasis riset dan inovasi bagi kemajuan Indonesia.
Mendiktisaintek Perkuat Kampus Dukung Swasembada Pangan Nasional 2026. Dalam pembukaan KSTI 2026, Menteri Brian Yuliarto menekankan bahwa kampus memiliki peran sentral dalam mendukung berbagai program prioritas pemerintah, termasuk mewujudkan kemandirian pangan nasional melalui penguatan riset, teknologi, dan hilirisasi inovasi.
“Di bawah arahan Bapak Presiden, pemerintah terus bergerak cepat dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan nasional. Kemdiktisaintek bersama seluruh perguruan tinggi memperkuat peran kampus sebagai mitra strategis pemerintah dalam menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi,” ujar Brian Yuliarto.
Forum KSTI 2026 juga menghadirkan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, yang mengapresiasi kontribusi besar perguruan tinggi dalam keberhasilan transformasi sektor pertanian Indonesia. Menurutnya, sinergi antara Kementerian Pertanian dan berbagai perguruan tinggi telah menghasilkan lompatan signifikan menuju swasembada pangan.
“Tanpa perguruan tinggi yang mendukung kami, kami tidak akan mencapai swasembada yang berkali-kali dikira tidak mungkin,” tegas Menteri Andi Amran.
Kolaborasi tersebut menghasilkan berbagai capaian strategis. Stok beras nasional kini mencapai 5,1 juta ton, sementara Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat sebesar 127 atau tertinggi dalam 34 tahun terakhir. Di sisi lain, kesejahteraan petani juga mengalami pertumbuhan 5,74 persen, tertinggi dalam 25 tahun berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).
Kemajuan juga terlihat dari penerapan inovasi hasil riset perguruan tinggi yang mampu meningkatkan produktivitas padi hingga mencapai 12,4 ton per hektare, lebih dari dua kali lipat rata-rata nasional sebesar 5,5 ton per hektare. Teknologi tersebut telah diuji di 14 provinsi dengan hasil yang konsisten, sekaligus memperkuat optimisme terhadap proyeksi Food and Agriculture Organization (FAO) bahwa produksi beras Indonesia pada 2026 dapat mencapai 38,6 juta ton.
Selain mendorong peningkatan produksi, mekanisasi pertanian yang dikembangkan melalui kolaborasi pemerintah dan perguruan tinggi berhasil memangkas biaya produksi hingga 50 persen serta meningkatkan hasil panen secara signifikan. Pendekatan berbasis sains juga diterapkan dalam reformasi distribusi pupuk bersubsidi sehingga proses birokrasi menjadi lebih sederhana, efisien, dan mampu menekan harga pupuk tanpa menambah beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Andi Amran memberikan apresiasi kepada berbagai perguruan tinggi, di antaranya IPB, Universitas Hasanuddin, Universitas Andalas, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, serta perguruan tinggi lainnya yang dinilai menjadi pilar penting dalam mendukung transformasi sektor pertanian nasional.
Melalui KSTI 2026, Kemdiktisaintek juga memperkuat peta jalan kolaborasi riset untuk menjawab tantangan ketahanan pangan ke depan. Komoditas strategis seperti bawang putih, kedelai, dan daging yang masih bergantung pada impor menjadi fokus utama pengembangan riset dan inovasi agar Indonesia semakin mandiri dan berdaya saing.
Pemerintah optimistis sinergi antara dunia akademik, industri, dan pemerintah akan terus melahirkan inovasi yang mampu mempercepat terwujudnya kemandirian ekonomi, ketahanan pangan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat menuju Indonesia yang maju dan berdaya saing global.(Red/nR)
Sumber informasi: Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
