Jakarta, Jurnaliswarga.id – Program makan bergizi yang digagas Presiden Prabowo Subianto diyakini memiliki dampak signifikan terhadap perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Berdasarkan kajian sosial ekonomi yang dilakukan oleh LP3M Al Isra Foundation, program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak, tetapi juga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi lokal dengan menyerap tenaga kerja serta mendorong perkembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Dengan lebih dari 30.000 mitra dan dapur yang tersebar di seluruh Indonesia, program ini diperkirakan mampu menyerap sekitar 1,2 juta tenaga kerja. Setiap mitra atau dapur melibatkan sekitar 37 pekerja lokal dan 3 pekerja dari Badan Bergizi. Dengan demikian, program ini dapat menurunkan angka pengangguran lebih dari 11%, khususnya di daerah yang sulit mendapatkan pekerjaan formal.
Selain membuka lapangan kerja, program makan bergizi juga memicu perputaran uang di masyarakat. Dengan anggaran belanja sekitar 45 juta rupiah per hari untuk melayani 3.000 siswa, program ini menghidupkan sektor UMKM yang menyediakan bahan makanan pokok. Total perputaran uang dari program ini diperkirakan mencapai 35,1 triliun rupiah setiap bulan, yang berdampak besar pada peningkatan daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi daerah.
Namun, keberlanjutan program ini tetap memerlukan pengelolaan yang baik, terutama dalam aspek rantai pasokan bahan makanan. Jika tidak dikendalikan dengan tepat, lonjakan permintaan dapat memicu kelangkaan dan kenaikan harga bahan pokok. Oleh karena itu, diperlukan sistem monitoring dan evaluasi yang ketat untuk memastikan manfaat program ini tetap optimal tanpa menimbulkan gangguan ekonomi di masyarakat.
Dengan pengelolaan yang baik, program makan bergizi dapat menjadi salah satu langkah strategis menuju Indonesia Emas, tidak hanya dari sisi kesehatan, tetapi juga dalam memperkuat perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat secara menyeluruh.(nR)
