
Prabumulih — Langit yang mulai diselimuti kabut asap mungkin terlihat seperti persoalan udara semata. Namun bagi tubuh, terutama saluran pernapasan anak, kualitas udara yang memburuk dapat menjadi tantangan yang tidak boleh diabaikan.
Asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membawa berbagai polutan, termasuk partikel halus PM2.5 yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Kementerian Kesehatan pada Agustus 2026 mengingatkan bahwa anak-anak termasuk kelompok yang membutuhkan perlindungan ekstra ketika kualitas udara memburuk.
Di tengah kondisi tersebut, perhatian terhadap kesehatan pernapasan anak menjadi penting. Bukan hanya ketika anak sudah mengalami batuk atau sesak, tetapi sejak paparan asap mulai terjadi.
Dokter Spesialis Anak RS Pertamina Prabumulih, dr. Isnalisа, Sp.A, mengingatkan pentingnya perhatian orang tua terhadap kondisi pernapasan anak selama periode udara berasap.
“Anak-anak memiliki saluran pernapasan dan paru-paru yang masih berkembang. Karena itu, ketika kualitas udara menurun akibat kabut asap, orang tua perlu lebih memperhatikan kondisi anak dan mengurangi paparan asap sebisa mungkin.”
(dr. Isnalisа, Sp.A)
Anak Lebih Rentan terhadap Kabut Asap
Kabut asap bukan hanya membuat udara terlihat keruh. Partikel-partikel kecil yang terkandung di dalamnya dapat mengiritasi saluran pernapasan dan menimbulkan berbagai keluhan, mulai dari batuk, tenggorokan tidak nyaman, mengi hingga sesak napas.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut anak-anak sebagai salah satu kelompok yang lebih rentan terhadap dampak asap kebakaran karena paru-paru dan sistem tubuh mereka masih berkembang. Paparan asap juga dapat memperburuk kondisi anak yang sebelumnya memiliki penyakit pernapasan seperti asma.
Penelitian yang diterbitkan pada 2026 juga menemukan adanya hubungan antara paparan asap kebakaran dan memburuknya berbagai gangguan pernapasan pada anak dan remaja.
Karena itu, orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan kondisi anak ketika kualitas udara mulai menurun.
Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan
Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah mengurangi aktivitas anak di luar ruangan ketika kondisi udara sedang buruk.
Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat di wilayah terdampak karhutla untuk menggunakan masker ketika kualitas udara memburuk, membatasi aktivitas di luar ruangan, serta memantau kondisi kualitas udara.
Bagi anak-anak, aktivitas bermain di luar rumah yang biasanya menjadi bagian dari keseharian dapat sementara dialihkan ke aktivitas di dalam ruangan, terutama ketika asap terlihat pekat atau kualitas udara berada pada kondisi tidak sehat.
Orang tua juga dapat memastikan ruangan tempat anak beraktivitas memiliki sirkulasi yang baik dan sebisa mungkin terlindung dari masuknya asap dari luar.
Perhatikan Tanda-Tanda pada Anak
Yang tidak kalah penting adalah mengenali perubahan kondisi anak.
Batuk yang muncul atau semakin sering, napas berbunyi, mengi, napas terasa lebih cepat, sesak, atau anak terlihat mengalami kesulitan bernapas merupakan kondisi yang perlu diperhatikan.
WHO mencatat paparan asap kebakaran dapat menyebabkan iritasi mata dan saluran pernapasan hingga keluhan yang lebih serius seperti mengi, nyeri dada, sesak napas, serta memperburuk serangan asma.
“Orang tua sebaiknya tidak hanya melihat apakah anak batuk atau tidak. Perhatikan juga pola napasnya, aktivitas anak, apakah anak tampak lemas, sulit bernapas, atau memiliki keluhan yang semakin berat. Jika muncul tanda-tanda tersebut, jangan menunda untuk mendapatkan pemeriksaan medis.”
(dr. Isnalisа, Sp.A)
Jangan Menunggu Sampai Keluhan Berat
Menjaga kesehatan pernapasan selama kabut asap pada dasarnya bukan tentang membuat anak sepenuhnya terhindar dari udara luar, tetapi mengurangi paparan dan mengenali kondisi sejak dini.
Anak dengan riwayat asma atau penyakit pernapasan tertentu membutuhkan perhatian lebih karena paparan asap dapat memperburuk gejala yang sudah ada.
Orang tua juga sebaiknya mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara dan kondisi karhutla di wilayah masing-masing. Jika anak mengalami keluhan yang mengkhawatirkan atau kesulitan bernapas, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan diperlukan.
Menjaga Napas, Menjaga Aktivitas Anak
Kabut asap mungkin tidak selalu bisa dikendalikan oleh satu keluarga. Namun, langkah untuk mengurangi paparan dan menjaga kesehatan anak dapat dimulai dari rumah.
Di tengah situasi tersebut, RS Pertamina Prabumulih berupaya menghadirkan informasi kesehatan yang dapat membantu masyarakat lebih memahami pentingnya menjaga kesehatan, termasuk kesehatan pernapasan anak.
Melalui edukasi dari tenaga medis, masyarakat diharapkan tidak hanya datang ke fasilitas kesehatan ketika sudah sakit, tetapi juga memiliki pengetahuan untuk melakukan pencegahan sejak awal.
Sebab bagi seorang anak, bernapas dengan nyaman bukan sekadar soal kesehatan. Ada aktivitas bermain, belajar, berlari, tertawa, dan tumbuh yang menunggu untuk dijalani.
Dan ketika udara di luar sedang tidak bersahabat, perhatian kecil dari orang tua bisa menjadi langkah besar untuk menjaga mereka tetap sehat.
RS Pertamina Prabumulih — hadir memberikan pelayanan sekaligus edukasi kesehatan bagi masyarakat.
